KOTO BARU –
Melintasi sepanjang jalan lintas sumatera yang melewati Kabupaten Dharmasraya,
para pandai besi semakin sulit saja ditemui. Hal ini dikarenakan merosotnya
harga komoditi karet khususnya di Kabupaten Dharmasraya.
Meskipun
demikian, masih ada juga beberapa pandai besi yang masih bertahan dengan
profesi yang terbilang pekerja keras. Salah satunya adalah Erik, bertempat di
pinggir Jalinsum Koto Baru. Perlu diketahui, pembuatan satu pisau deres karet
saja sangatlah sulit. Karena proses pembuatan satu unit pisau deres itu mesti
memiliki ketelatenan dalam mengelola besi panas yang baru dikeluarkan dari
pemanggangan yang bersuhu tinggi.
Saat ditemui
Dharmasraya Ekspres, Erik si pandai besi di tempat ia beraktifitas
sehari harinya mengatakan kalau dirinya melakoni profesi sudah sangat lama
sekali. Sedangkan di Dharmasraya saja ia sudah selama 11 tahun melakukan
propesi ini. ”Saya di sini sudah sebelas tahun bang. Sudah sama dengan umur Kabupaten
Dharmasraya bang,” tutur Erik kepada wartawan Dharmasraya Ekspres beberapa
waktu lalu.
Bicara soal
berapa banyak sanggup ia menyelesaikan dalam satu hari, laki laki kelahiran
Palembang ini mengatakan dia sanggup menyelesaikan 30 unit per hari. Baik itu
pisau deres ataupun yang lainnya. ”Saya bersama anggota sanggup 30 sehari
bang,” ungkapnya.
Setelah itu,
pembicaraan lanjut kepada pemasaran atau penjualan barang. Erik mengaku kalau
dalam kondisi perekonomian seperti saat ini memang ada pengurangan dari pada
sebelumnya. Di mana sebelum harga komoditi karet melambung tinggi para pandai
besi kebanjiran order dikarenakan kebanyakan petani karet lari ke perkebunan.
Namun saat ini para petani karet banyak yang berusaha mencari penghasilan lain
selain karet. Ini pun tidak terlepas dari tuntutan kebutuhan pokok yang terus
menanjak. Sedangkan pendapatan asli mengalami penurunan. ”Sejak 2 tahun ini
memang ada pengurangan dari yang biasanya bang. Saya menyadari kalau kondisi
ini memukul hampir semuanya,” ibanya.
Berlanjut
kepada pendapat sehari hari, si pandai besi ini mengaku pendapatanan rata rata
Rp.300 ribu kotor perhari. Karena mesti mengeluarkan modal besi, biaya listrik
dan pembelian arang itupun belum termasuk makan rokok dan gaji rekan kerja.
”Sehari saya biasanya mendapatkan penghasilan berkisaran Rp.300 ribu bang,”
singkatnya sebelum berpamitan.(nof)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar