Selasa, 27 Januari 2015

Harga Karet Merosot, Pandai Besi Berkurang



KOTO BARU – Melintasi sepanjang jalan lintas sumatera yang melewati Kabupaten Dharmasraya, para pandai besi semakin sulit saja ditemui. Hal ini dikarenakan merosotnya harga komoditi karet khususnya di Kabupaten Dharmasraya.
Meskipun demikian, masih ada juga beberapa pandai besi yang masih bertahan dengan profesi yang terbilang pekerja keras. Salah satunya adalah Erik, bertempat di pinggir Jalinsum Koto Baru. Perlu diketahui, pembuatan satu pisau deres karet saja sangatlah sulit. Karena proses pembuatan satu unit pisau deres itu mesti memiliki ketelatenan dalam mengelola besi panas yang baru dikeluarkan dari pemanggangan yang bersuhu tinggi.
Saat ditemui Dharmasraya Ekspres, Erik si pandai besi di tempat ia beraktifitas sehari harinya mengatakan kalau dirinya melakoni profesi sudah sangat lama sekali. Sedangkan di Dharmasraya saja ia sudah selama 11 tahun melakukan propesi ini. ”Saya di sini sudah sebelas tahun bang. Sudah sama dengan umur Kabupaten Dharmasraya bang,” tutur Erik kepada wartawan Dharmasraya Ekspres beberapa waktu lalu.
Bicara soal berapa banyak sanggup ia menyelesaikan dalam satu hari, laki laki kelahiran Palembang ini mengatakan dia sanggup menyelesaikan 30 unit per hari. Baik itu pisau deres ataupun yang lainnya. ”Saya bersama anggota sanggup 30 sehari bang,” ungkapnya.
Setelah itu, pembicaraan lanjut kepada pemasaran atau penjualan barang. Erik mengaku kalau dalam kondisi perekonomian seperti saat ini memang ada pengurangan dari pada sebelumnya. Di mana sebelum harga komoditi karet melambung tinggi para pandai besi kebanjiran order dikarenakan kebanyakan petani karet lari ke perkebunan. Namun saat ini para petani karet banyak yang berusaha mencari penghasilan lain selain karet. Ini pun tidak terlepas dari tuntutan kebutuhan pokok yang terus menanjak. Sedangkan pendapatan asli mengalami penurunan. ”Sejak 2 tahun ini memang ada pengurangan dari yang biasanya bang. Saya menyadari kalau kondisi ini memukul hampir semuanya,” ibanya.
Berlanjut kepada pendapat sehari hari, si pandai besi ini mengaku pendapatanan rata rata Rp.300 ribu kotor perhari. Karena mesti mengeluarkan modal besi, biaya listrik dan pembelian arang itupun belum termasuk makan rokok dan gaji rekan kerja. ”Sehari saya biasanya mendapatkan penghasilan berkisaran Rp.300 ribu bang,” singkatnya sebelum berpamitan.(nof)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar