Perhelatan Pekan Olah Raga Provinsi Sumbar ke-13 yang diselenggarakan di Kabupaten Dharmasraya pada (16/12) lalu banyak menarik perhatian orang di seluruh Indonesia. Seperti halnya Suryana dari Bandung.
NOFRI -- DHARMASRAYA EKSPRES
M enurut cerita dari Suryana, laki laki 40-an ini rela melintasi laut selat sunda dengan angkutan umum. Agar bisa hadir di Kabupaten Dharmasraya untuk menjalankan profesinya sebagai tukang jahit ukir nama.
Saat ditemui dipelataran Aula Stikes
Dharmasraya, Surya mengatakan untuk bisa menginjakkan kaki di Ranah Cati Nan Tigo ini dia mesti melalui waktu yang panjang sampai 2 kali 24 jam baru bisa sampai di sini. Belum lagi terombang ambing di tengah lautan selat sunda dengan lantunan ombak yang tidak dapat dipastikan. Setelah itu dia mesti melalui lika liku jalan, mendaki dan menurun jalan. Belum lagi dia terhentak hentak apa bila menemui jalan berlobang dan rusak parah, yang paling menyedihkan adalah dia mesti bertarung dengan perubahan cuaca antara cuaca bandung yang dikenal adem dan sejuk.
Sedangkan cuaca Dharmasraya, cendrung panas menusuk ke dalam daging badan. Kalau saja tidak pandai menjaga diri, bisa bisa nyawa melayang di negeri orang, hanya demi menjahitkan nama orang yang ingin memanfaatkan jasanya untuk mengukir nama dengan mesin jahit miliknya.
Usai berbicara panjang lebar tentang perjalanan yang ditempuhnya, penulis mencoba menanyakan berapa harga yang di tetapkan untuk satu kali ukiran nama. Setelah mendengarkan ucapannya, perjuangan yang bertaruh nyawa itu terasa terbayar dengan penghasilan yang bisa dia peroleh dalam satu hari dengan hanya menawakan jasa keahlian nya dalam mengukir nama. Penghasilan si tukang jahit ini dalam satu hari bisa mencapai Rp.800 sampai satu juta lebih.
"Untuk harga kita lihat ukuran mas. Paling kecil harganya Rp.10 ribu. Kalau besar bisa 4 sampai Rp.50 ribu. Kalau orang ramai, saya bisa mendapat omset satu juta lebih dalam satu hari," jelasnya didepan aula stikes yang menjadi arena cabor takewondo kamis siang (25/12).
Selain itu, salah seorang wanita bernama Yurmaneli dari Kabupaten Pesisir Selatan yang pada saat itu tengah mengukir nama di baju kaus anaknya. "Saya barusan ukir 3 nama untuk kenang kenangan nanti kalau sudah pulang dari sini," paparnya.(***)
NOFRI -- DHARMASRAYA EKSPRES
![]() |
| Tampak pedagang dari Bandung yang rela datang ke Dharmasraya untuk mengais rezeki./NOFRI/DHAMEKS. |
M enurut cerita dari Suryana, laki laki 40-an ini rela melintasi laut selat sunda dengan angkutan umum. Agar bisa hadir di Kabupaten Dharmasraya untuk menjalankan profesinya sebagai tukang jahit ukir nama.
Saat ditemui dipelataran Aula Stikes
Dharmasraya, Surya mengatakan untuk bisa menginjakkan kaki di Ranah Cati Nan Tigo ini dia mesti melalui waktu yang panjang sampai 2 kali 24 jam baru bisa sampai di sini. Belum lagi terombang ambing di tengah lautan selat sunda dengan lantunan ombak yang tidak dapat dipastikan. Setelah itu dia mesti melalui lika liku jalan, mendaki dan menurun jalan. Belum lagi dia terhentak hentak apa bila menemui jalan berlobang dan rusak parah, yang paling menyedihkan adalah dia mesti bertarung dengan perubahan cuaca antara cuaca bandung yang dikenal adem dan sejuk.
Sedangkan cuaca Dharmasraya, cendrung panas menusuk ke dalam daging badan. Kalau saja tidak pandai menjaga diri, bisa bisa nyawa melayang di negeri orang, hanya demi menjahitkan nama orang yang ingin memanfaatkan jasanya untuk mengukir nama dengan mesin jahit miliknya.
Usai berbicara panjang lebar tentang perjalanan yang ditempuhnya, penulis mencoba menanyakan berapa harga yang di tetapkan untuk satu kali ukiran nama. Setelah mendengarkan ucapannya, perjuangan yang bertaruh nyawa itu terasa terbayar dengan penghasilan yang bisa dia peroleh dalam satu hari dengan hanya menawakan jasa keahlian nya dalam mengukir nama. Penghasilan si tukang jahit ini dalam satu hari bisa mencapai Rp.800 sampai satu juta lebih.
"Untuk harga kita lihat ukuran mas. Paling kecil harganya Rp.10 ribu. Kalau besar bisa 4 sampai Rp.50 ribu. Kalau orang ramai, saya bisa mendapat omset satu juta lebih dalam satu hari," jelasnya didepan aula stikes yang menjadi arena cabor takewondo kamis siang (25/12).
Selain itu, salah seorang wanita bernama Yurmaneli dari Kabupaten Pesisir Selatan yang pada saat itu tengah mengukir nama di baju kaus anaknya. "Saya barusan ukir 3 nama untuk kenang kenangan nanti kalau sudah pulang dari sini," paparnya.(***)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar